
Waktu menunjukan pukul 06.35 pagi, suasana SMU Don Bosco masih sepi, belum banyak siswa yang datang. Namun seperti biasanya Lia sudah duduk manis di bangku dalam kelasnya, tak lama kemudian muncul Adi, tetangga kelas Lia di sekolah.
“Pagi cantik… ada titipan nih buat kamu…” ujar Adi sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado warna biru.
Lia mengulurkan tangannya, “pagi juga Di.. apaan nih?, dari siapa ??”.
“Udah… dibuka aja… ini dari fans kamu, o iya dia titip salam buat kamu…. udah ya… aku cabut dulu! belum ngerjain peer nih…”.
”Hai… ntar dulu… dari siaa..?” Lia tidak melanjutkan kata-katanya karena Adi sudah keburu meninggalkannya.
Lia tertegun memandang kotak biru itu, sebelum akhirnya ia membuka bungkusan tersebut. “Waw.. novel terbaru!!! keren banget nih”, Lia menimang-nimang novel itu. Dan.. “Plok!!” Ada sebuah lipatan kertas berwarna biru muda terjatuh dari dalam novel tersebut. Perlahan Lia mengambil lipatan kertas itu, di situ tertulis sebait puisi.. Ku ayun langkahku menembus pekat malam Dingin dan gelap malam tak kuhiraukan… Bias lampu kota seakan berikan tanda Ku harus tetap melangkah… Menggapai bayangmu disela kabut malam Sejuk tatapmu berikan sejuta makna.. Aku sendiri tidak yakin dengan ini… _Dreamer_
Lia tertegun dengan semua itu, “Hmmh… bagus juga puisinya”. Gumam Lia dalam hati.
“Hai… pagi-pagi koq dah ngelamun!!!.
“Ah.. Katrin… bikin kaget aja….” Ujar Lia sewot, merasa terganggu.
“Hmmh… dapet surprise dari sapa tuh.. hik..hik koq nggak kasi tau aku, lagi pedekate ma sapa?!, ayo dong cerita!!!” Katrin terus nyerocos.
”Nggak tau.. coba deh baca….” Lia memberikan secarik kertas warna biru tersebut.
Dengan cepat Katrin menyambar kertas itu. “Wah.. romantis bangett…. Hmmhhh…. Puisinya aja keren gini, pasti orangnya sekeren puisi ini ya? siapa tuh Dreamer?, kasian banget… kenalin dong!!!?”.
“Adi yang ngasih ke aku tadi pagi, cuma dia bilang itu barang titipan, dari seseorang, cuma dia dia nggak mau bilang sapa Dreamer itu…”.
“Oo.. tapi kamu suka khan? hayo ngaku aja, ini khan novel favoritmu??”
“entahlah.” Lia menghela nafas panjang.
Semenjak Lia menerima novel misterius itu, banyak yang berubah dari diri Lia. Kalau biasanya Lia menghabiskan waktu istirahat sekolahnya dikantin atau bercanda dengan teman-temannya, namun tidak untuk sekarang, sekarang tidak lagi. Lia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca novel pemberian Dreamer. Novel itu seakan telah membiusnya untuk tetap tinggal di dalam kelasnya, tanpa menghiraukan hiruk pikuk teman-temannya yang menghabiskan waktu istirahat mereka di luar kelas. Lia tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Sosok itu kian mendekat, dan... “hai..!!!”. suara itu mengagetkan Lia,
“ Woi Adi jelek, sopan dikit napa??!!! bikin rusuh aja …”. ujar Lia sewot.
“He2.. sory non… boleh aku temenin?!”.
“Ihh… ngapain sih deket-deket? udah.. sana pergi sana… dasar mukri!!! …”.
“ Upss… apaan tuh mukri, ganteng nggak?” sahut Adi dengan wajah bego’nya. “Hmh… mau tau mukri ?, “itu lho yang suka makan pisang, atau kacang”.
“Maksudnya?” Adi makin penasaran. “He2… Adi, Mukri tuh munyuk kriting, alias mungky alias kamu hi..hi… udah sana pergi… gangguin orang aja” Lia tertawa puas.
Adi hanya melongo. “Nih ada titipan lagi buat kamu…. Adi memberikan sebuah kertas berwarna biru yang terlipat rapi kepada Lia. “Apaan lagi nih?” dari Dreamer lagi??”, sebenarnya siapa sich dia?”
“Udah, ntar kamu juga tau… baca aja dech, kaya’nya dia suka kamu deh…”
“Heh.. bilang ya sama Dreamer kalo berani jangan pake mak comblang gitu dong!!!… gentle dikit knapa sich?? temuin aku sendiri, ga” usah pake mak comblang segala”
‘Iya…iya… nanti aku sampaikan ke dia.. dasar murus kamu … “ sahut Adi
“apa??!! murus??? apaan tuh murus?” kini Lia yang jadi penasaran
“ Mau tau murus?” bener ?”.
“Adi!!! jangan mulai deh… apaan tuh murus?”
Sekarang giliran Adi yang ngakak melihat wajah Lia yang mulai kebingungan. “dasar munyuk lurus …ha-ha….” ujar Adi sambil lari meninggalkan Lia di dalam kelas.
“Woi… Adi… awas kamu kalo kesini lagi,… Adi jelek!!!! dasar mukri!!! ...” Suasana kembali hening, perlahan Lia membuka kertas biru itu, dan lagi-lagi ada barisan puisi di situ.
“Rasa ini teramat menyiksaku
Duduk bersimpuh dalam ketidak berdayaan
Hatiku mengatakan Ku harus milikimu
Tapi lagi-lagi aku tak punya keberanian
Keraguanku mengalahkan suara hatiku Sampai kapan?
Aku tak pernah tahu… Bilakah kau mengerti?
_Dreamer_ “
Lia semakin penasaran dengan semua itu, hati kecilnya mengatakan kekaguman pada pengarang puisi itu, siapakah dia sebenarnya? Lia mencoba memecahkan teka-teki itu sendiri, namun tak mampu. “Emhh… apakah dia Anto, anak kelas 10 IPS itu yach? dulu khan dia pernah mendekatiku… ahh… tapi nggak mungkin kalo Anto, bagaimana dia bisa meminta Adi menjadi mak comblangnya??, setahuku mereka tidak pernah deket??”…Hmmh… siapa sih Dreamer?” tiba-tiba saja Lia menjadi gelisah memikirkan hal itu.
Tak terasa tiga minggu sudah berlalu, Melalui Adi, Dreamer semakin gencar mengirimkan puisi dan salam untuk Lia. Akan tetapi Adi tak pernah memberitahukan siapakah dreamer itu sebenarnya. Lia hanya tahu bahwa Dreamer menyukainya. “eh…Katrin…. Emmhh…” Ujar Lia sambil meminum jus orange di kantin sekolah.
“Ada apa?... kaya’ baru kenal aja…., what’s wrong with you??” Kya!!, bagus nggak inggrisku??!!!
“Trin… menurutmu Demer itu siapa yach?”
“Hah…. Dreamer??, kamu jatuh cinta ya ma dia??, kamu khan belum pernah liat tampang Dreamer…. How could it Happen to you?? Kya!!!!, inggrisku keren yach???!
“Ah, No way!! Cowok pengecut gitu!!! aku cuma penasaran banget, siapakah dreamer, kenapa ia begitu pengecut untuk mendekatiku sendiri.”
“Ah, jangan sombong… siapa tau dia adalah cowok impianmu… “ “Emh… iya juga ya, bodohnya aku!!!, tapi gimana caranya menangkap tuh anak??, bantuin aku yach?”
Katrin cuma mengangguk pelan. “Hmhh.. tenang aja… Katrin terdiam memikirkan sesuatu “ Yup!! Aku ada solusi …”
“benarkah??” seketika wajah Lia berbinar mendengar jawaban Katrin barusan.
“Hmhh…. Kamu cukup diem aja… anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa, nanti kalau Adi ngasi titipan lagi, kamu pura-pura cuek aja... okey?”
“Lho koq dicuekin… jadi nyari Dreamer nya batal gitu maksudnya??!!!” Lia mulai kesal. “tenang aja, pasti Dreamer kita temukan nanti… kamu cukup do nothing alias diem, okey?” Lia, hanya mengangguk pelan, dengan sejuta tanya dalam hatinya.
Dua minggu sudah Lia mencoba menahan gejolak perasaannya tentang Dreamer, namun belum ada titik terang mengenai Dreamer dan puisi-puisi misteriusnya. Lia semakin gusar. “Eh… Katrin…. katanya Dreamer bakalan datang sendiri… mana?!!, udah dua minggu lho… jangan-jangan ia tidak pernah muncul lagi… Hik-hik… aku nangis nich” ujar Lia dikantin sekolah. “Hmhh… sabar dikit napa sih??! aku yakin, dia pasti kita temukan, okey?? tenang aja” ujar Katrin sambil menghabiskan jus jeruk kesukaannya. Bel berdentang, percakapan dua sahabat itu terhenti sejenak, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya. tidak sampai lima menit, mereka sudah sampai memasuki ruangan kelasnya. Suasana kelas masih agak sepi, masih banyak anak-anak yang berada di luar kelas.
“Katrin… sejak kapan aku meninggalkan tas di meja saat istirahat?” Lia tersentak melihat tasnya berada di atas meja dalam keadaan terbuka, padahal seingatnya, ia telah memasukan tasnya ke dalam laci meja sebelum keluar kelas tadi.
“Ehm… coba kamu periksa dech… barangkali ada barang yang ilang…” Ujar Katrin tak kalah gusar.
Lia segera memeriksa tas miliknya, semuanya masih utuh, namun…
“Hei… ada kertas biru lagi…” hati Lia berdetak keras, denyut jantungnya seakan berhenti. Perlahan ia membuka lipatan kertas biru itu.
Dingin, sunyi, sepi, sendiri..
Rasa itu terus menderaku
Rasa kagumku mengalahkan egoku
Aku kalah…
-Dreamer-
Notes: temui aku aku di kafe JAZZY depan sekolah jam 19.00.
Degh…. Lia segera memeluk Katrin sahabatnya…. “Katrin…. Thanks banget yach…. Kamu emang oke punya…. “
Katrin hanya bengong tak mengerti…”What,s up??!!”
“Nih.. baca nih….” Katrin meraih kertas itu.
“Ehm…Ehm… cie… yang mau ketemuan…. Cie!!!”
“jangan gitu dong….. nervous banget nih…. Gimana dong???”
“Udah, tenang aja… be your self….. temukan apa yang kau cari selama ini sahabatku…. Aku mendukungmu…”
“Thanks Katrin…. Doain dia ganteng yach???”, hiks-hiks jadi malu nih…” ujar Lia tersipu. ***
Suasana kafe Jazzy terlihat sepi, hanya ada satu atau dua orang pengunjung malam itu. Lia datang sendiri, pandangannya menyebar ke seluruh sudut kafe itu, namun tak satupun cowok yang menurut dia adalah Dreamer. Akhirnya Lia memutuskan untuk menunggu. Lia duduk di sebuah bangku yang kosong di sudut ruangan kafe itu. Di sela-sela kebingungannya itu, tiba-tiba sebuah suara menyapa dari belakang tempat Lia duduk.
“Lia…” Lia hanya tediam, suara itu tak asing lagi baginya.
“Selamat siang Lia…” suara itu kembali menyapa. “Hei… Adi??!!!, kenapa kamu di sini?, lagi nungguin siapa?” Lia mencoba menahan gejolak dalam hatinya.
“Hmmh…. Aku nungguin kamu…kamu mau ketemu Dreamer khan?? “
“Lho.. Koq kamu bisa tau?, dimana Dreamer sekarang, cepat katakan Adi?!!!” Lia tak mampu menyembunyikan gejolak hatinya.
“Lia….” Adi menatap Lia penuh makna, tatapan teduh yang sanggup membuat setiap mahluk takluk dihadapannya., Lia tak sanggup beradu pandangan dengan Adi, Ia menunduk. “Lia…. Orang yang kamu cari sekarang ada dihadapanmu… akulah Dreamer yang yang kau cari”. Degh…. hati Lia tersentak, bagaimana bisa ini terjadi?, Lia masih tak percaya. Perasaan Lia bercampur aduk.
“Adi!!!... benarkah semua itu??!!” kenapa kau begitu pengecut untuk menghadapi aku?, kenapa harus dirimu Adi?, Kenapa??!!” Lia tak mampu mengendalikan ledakan emosi dalam jiwanya. “Maafin aku Lia… tapi inilah kenyataannya… inilah aku…Dreamer… Akulah orangnya, yang begitu lama memendam rasa sayangku untukmu. Dua tahun sudah aku memendam rasa ini untukmu Lia… inilah aku yang selalu menanti senyummu di setiap pagi sebelum pelajaran dimulai… ku akui aku memang pengecut, kenapa aku harus menjadi mak comblang untuk diriku sendiri… maafin aku Lia… tapi sekarang aku lega, meskipun kau mungkin akan membenciku selamanya, aku lega bisa mengungkapkan perasaanku ini Lia… sekarang terserah kamu…. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, ku harap kau mengerti..” Lia hanya tertunduk, begitupun dengan Adi, suasana menjadi begitu hening, sayup-sayup terdengar alunan musik dari speaker kafe tersebut. Lia menghela nafas panjang. “Adi…. Aku belum cukup mengerti dengan semua ini… kenapa kamu harus menjadi mak comblang untuk Dreamer… mak comblang untuk dirimu sendiri? kenapa Adi? apa kamu benar-benar serius menyayangi aku?”
Adi terdiam, pandangannya menerawang jauh. Sejenak ia menghela nafas panjang kemudian menatap Lia yang menunggu jawaban darinya. “ Lia… aku serius dengan perasaanku, entah mesti dengan cara apa aku bisa membuatmu percaya… aku menjadi Dreamer, karena aku benar-benar tidak mempunyai keberanian untuk mendekatimu, terus terang aku bingung mesti mulai dari mana. Image seorang Adi yang urakan sudah terlanjur masuk dalam pikiranmu bukan? aku bingung gimana mengenalkan diriku yang sebenarnya, sisi lain dari jiwaku yang memendam sebuah harapan bersamamu..” Lia tertunduk, kata kata Adi barusan cukup membuat bulu kuduknya merinding. Kata-kata tersebut meruntuhkan seluruh ego dan amarahnya, kini Ia merasa tak berdaya di depan Adi. Namun sisi lain hatinya menyimpan keraguan untuk Adi. “Adi…..” Lia tak melanjutkan kata-katanya. “Iya… aku siap menerima apa pun keputusan kamu Lia…” ucap Adi penuh harap.
“Ehm…. Gimana yach???” Lia menjadi bimbang. “Ah andai ada Katrin di sini” Lia menjadi gelisah “Emmhhh… kaya’nya aku ga’ bisa deh….”
Meski telah siap dengan jawaban itu Adi tetap tersentak kaget, musnah sudah harapannya untuk memiliki Lia. “Ohh… begitu…. ya sudah… gapa-pa koq… Tapi, boleh tau kenapa?. Lia hanya tertunduk diam tanpa suara.
Melihat itu semua, Adi segera beranjak meninggalkan Lia, Namun tiba-tiba “Adi…. “ Langkah Adi terhenti…. “Tunggu, aku belum selesai bicara…”
“Apa lagi Lia, bukankah kau tidak bersedia menerima cintaku?”
Aku…aku.. ga’ bisa menolak kamu Adi…” ucap Lia lirih.
“Benarkah??? Apakah aku sedang bermimpi??? Coba kamu ulangi lagi Lia”. “Aku juga sayang kamu…” ujar Lia tersipu, wajahnya merona merah. Ada nuansa kebahagiaan diwajahnya.
Adi mendekati Lia, lalu memegang kedua tangan gadis pujaannya itu. Makasih Lia…. I Love You…” Adi tersenyum bahagia.
“Lia, bener kamu nggak malu jadian sama aku?, aku khan Mukri yang suka makan kacang…” goda Adi pada gadis di hadapannya.
“Ehm… kamu tau nggak, Keriting khan lagi trend sekarang, kaya’ vokalisnya Nidji tuh..” meski keriting aku suka koq..”, sekarang giliran aku yang nanya, kenapa sich kamu suka aku, nggak ada yang lain apa?
“Ah, kamu bisa aja Lia, aku ntar nggak bisa jalan lho… ehm… aku suka kamu karena kamu cantik, anggun dan….” Adi sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
‘Dan apa?.. koq nggak dilanjutin sich, bikin penasaran tau?”
“duh, baru jadian dah marah… he.. he… tapi kalo gitu kamu tambah cantik lho…”
“Ah… Adi!!, jangan godain aku terus dong, dan apa?! Hayo…!!!” Ujar Lia sambil mencubit lengan Adi.
“duh!!!!.. I…Iya… aku lanjutin deh.. tapi lepasin dulu….Auh!!” Ujar Adi meringis.
“Ehmm.. Lia, bidadariku… Aku suka kamu karena kamu cantik, anggun dan… Emh.. emh.. karena kamu juga suka makan kacang…, rambutnya lurus lagi… alias MURUS.. Ha.. ha..” “Adi!!!...” Lia Semakin Gemas.
“Arrghh!!! aduh, sakit… ampun bidadariku… kamu yang tercantik…” Adi kembali meringis manakala Lia kembali mencubit lengannya. Dan duniapun bersaksi atas cinta mereka…